Ucapan AHY soal Batasan Kekuasaan Picu Spekulasi Tawaran Pemilu 2029 – Politik

Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono baru-baru ini yang menyoroti keterbatasan kekuasaan dan meningkatnya tekanan ekonomi telah memicu spekulasi bahwa ia sudah mempersiapkan diri untuk pemilihan umum berikutnya, yang berpotensi menguji kohesi koalisi berkuasa di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Agus, yang dikenal sebagai AHY dan menjabat sebagai menteri infrastruktur senior di kabinet Prabowo, menyampaikan pidato tersebut pada perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat di Jakarta pada akhir pekan, yang dihadiri oleh ayahnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkaca pada sepuluh tahun masa jabatan ayahnya dan sejarah partai tersebut baik di pemerintahan maupun oposisi, Agus menekankan pentingnya melindungi demokrasi dalam segala kondisi, termasuk hak masyarakat untuk memilih dan mencalonkan diri.

“Kekuasaan tidak selamanya menjadi milik siapa-siapa, itu amanah yang diberikan oleh rakyat dan ada batas waktunya,” ujarnya. “Pemilu pada akhirnya adalah milik rakyat. Hak mereka untuk memilih dan mencalonkan diri dalam pemilu tidak boleh dihalangi.”

Beliau juga meminta anggota partai untuk mendengarkan dengan seksama kekhawatiran masyarakat, dengan menunjukkan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang terus menghadapi kesulitan ekonomi dan tekanan yang semakin besar dalam kehidupan sehari-hari mereka, termasuk meningkatnya biaya hidup, lemahnya daya beli, dan terbatasnya akses terhadap pekerjaan berkualitas.

“Tekanannya nyata […]. Kita tidak boleh mengabaikan hal ini. Kita tidak boleh menjauhkan diri dari kenyataan,” kata Agus.

Ucapan AHY soal Batasan Kekuasaan Picu Spekulasi Tawaran Pemilu 2029 – Politik

Setiap Senin, Rabu dan Jumat pagi.

Dikirim langsung ke kotak masuk Anda tiga kali seminggu, pengarahan yang dikurasi ini memberikan gambaran singkat tentang isu-isu terpenting hari ini, yang mencakup berbagai topik mulai dari politik hingga budaya dan masyarakat.

untuk mendaftar buletin kami!

Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.

Lihat Buletin Lainnya

Pernyataan tersebut muncul ketika tingkat dukungan terhadap Prabowo merosot, dari 81,2 persen pada bulan November tahun lalu menjadi 51,1 persen pada bulan Juli, menurut survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan para responden menyebutkan kondisi perekonomian negara sebagai salah satu faktornya.