Lebih dari dua dekade setelah transisi demokrasi di Indonesia, era Reformasi akan segera berakhir karena tatanan oligarki semakin tersentralisasi dan memusatkan kekuatan politik dan ekonomi meskipun terdapat lembaga-lembaga demokrasi, demikian peringatan sepasang peneliti terkemuka.
Kelompok oligarki, yang terfragmentasi dan terdesentralisasi setelah jatuhnya mantan presiden Soeharto pada Mei 1998, kini sedang menjalani proses rekonsolidasi, menurut analis politik Vedi R. Hadiz dan Richard Robison.
“Kekuasaan ekonomi dan politik kini sedang diresentralisasi, meskipun kita mungkin masih memiliki institusi demokrasi,” kata Vedi, profesor Studi Asia di Asia Institute, Universitas Melbourne.
Rekonsolidasi oligarki merupakan salah satu poin utama dalam buku terbaru Vedi dan Robison Oligarki dan Akhir Reformasi di Indonesia: Reorganisasi Kekuasaan yang diterbitkan pada Kamis.
Buku ini sendiri merupakan edisi revisi dan pemutakhiran dari buku mereka yang terbit tahun 2004, Reorganizing Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Market pada tahun 2004, yang dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam politik modern Indonesia. Ini juga merupakan salah satu analisis politik yang paling banyak dikutip mengenai jatuhnya rezim otoriter Orde Baru Soeharto.
Salah satu alasan di balik keberhasilan oligarki baru-baru ini, sebagaimana disoroti oleh para penulis, adalah bahwa transisi demokrasi setelah jatuhnya Soeharto menghasilkan reformasi kelembagaan yang besar, namun tidak mencapai transformasi politik dan sosial secara penuh. Hal ini membuat sebagian besar struktur kekuasaan elit yang sudah mengakar tetap utuh, kata Robison, seorang profesor emeritus di Universitas Murdoch.

Setiap Senin, Rabu dan Jumat pagi.
Dikirim langsung ke kotak masuk Anda tiga kali seminggu, pengarahan yang dikurasi ini memberikan gambaran singkat tentang isu-isu terpenting hari ini, yang mencakup berbagai topik mulai dari politik hingga budaya dan masyarakat.
untuk mendaftar buletin kami!
Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.
Lihat Buletin Lainnya
“Oligarki tidak pernah hilang,” kata Robison. “Institusinya berubah, namun oligarki sebagai sistem aliansi dan hubungan tidak pernah dibongkar.”


