Jakarta. Kelompok-kelompok usaha telah memperingatkan bahwa pemadaman listrik baru-baru ini di seluruh Pulau Jawa dapat mengganggu produksi industri, melemahkan rantai pasokan, dan melemahkan kepercayaan investor terhadap Indonesia, seiring upaya pemerintah untuk menstabilkan pasokan listrik menyusul kekurangan batu bara di pembangkit listrik.
Kekhawatiran ini muncul ketika Presiden Prabowo Subianto memanggil para eksekutif PLN ke Istana Kepresidenan pada hari Senin untuk mengatasi serangkaian gangguan listrik yang mempengaruhi beberapa wilayah di Pulau Jawa, jantung ekonomi dan industri Indonesia.
Pemadaman listrik akibat kekurangan pasokan batu bara dan permasalahan teknis di beberapa pembangkit listrik berdampak pada wilayah Jabodetabek, Cianjur, Semarang, dan sebagian Madura. Gangguan ini mengungkap kerentanan dalam rantai pasokan listrik di Indonesia meskipun negara ini merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.
Erwin Aksa, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), mengatakan pemadaman listrik dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang signifikan karena Pulau Jawa merupakan pusat sektor manufaktur, perdagangan, dan jasa di negara ini.
IKLAN
Perusahaan manufaktur, produsen makanan dan minuman, perusahaan tekstil, operator logistik, pusat data dan usaha kecil semuanya melaporkan gangguan operasional, menurut Kadin.
“Perusahaan tidak hanya kehilangan jam produksi, tetapi juga menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi karena harus bergantung pada genset dan sumber energi cadangan untuk mempertahankan operasional bisnis,” kata Erwin.
Kadin mengatakan pihaknya mengumpulkan data dari dunia usaha di seluruh negeri sebelum memperkirakan dampak ekonomi nasional. Kerugiannya meliputi penghentian produksi, keterlambatan pengiriman, gangguan rantai pasokan, dan biaya operasional yang lebih tinggi.
Asosiasi industri memperingatkan bahwa pemadaman listrik yang berkepanjangan dapat menurunkan tingkat utilisasi pabrik dan mengancam pemulihan industri di Indonesia.
Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), mengatakan produsen plastik sangat rentan karena banyak pabrik yang beroperasi terus menerus sepanjang waktu.
Pabrik-pabrik yang terhubung ke jaringan tegangan menengah dan tinggi biasanya beroperasi 24 jam sehari dan mungkin memerlukan tiga hingga tujuh hari untuk memulai kembali operasi sepenuhnya setelah penutupan, sehingga mengakibatkan kerugian finansial yang besar, katanya.
Produsen skala kecil dan menengah juga termasuk yang paling terkena dampaknya. Gangguan produksi sering kali memaksa perusahaan membuang barang setengah jadi dan bahan mentah, sehingga meningkatkan limbah dan mengurangi efisiensi.
Industri hilir plastik di Indonesia baru-baru ini meningkatkan tingkat pemanfaatannya menjadi sekitar 60 hingga 65%, namun Fajar memperingatkan bahwa gangguan listrik yang terus-menerus dapat membalikkan kemajuan tersebut.
“Jika keadaan ini terus berlanjut maka tingkat utilisasi yang sudah mulai pulih akan kembali menurun. Dampaknya pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli konsumen dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah memperkuat keandalan sistem ketenagalistrikan nasional melalui kajian komprehensif terhadap margin cadangan, keandalan pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan sistem tanggap darurat.
Kelompok usaha juga mendesak PLN untuk memberikan peringatan dini dan komunikasi yang lebih jelas kepada pelanggan industri sehingga perusahaan dapat menyesuaikan jadwal produksi, mengamankan bahan baku, dan meminimalkan kerugian.
Gangguan yang terjadi baru-baru ini sebagian disebabkan oleh kekurangan batubara kualitas menengah yang digunakan oleh pembangkit listrik. PLN membutuhkan sekitar 154 juta metrik ton batubara setiap tahunnya namun hanya mendapatkan kontrak sekitar 134 juta ton, sehingga menyebabkan kesenjangan pasokan sekitar 20 juta ton.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah membentuk satuan tugas untuk mengamankan pasokan batubara untuk pembangkit listrik dan sedang mempertimbangkan penyesuaian terhadap kebijakan kewajiban pasar dalam negeri di Indonesia, yang saat ini mengharuskan produsen batubara untuk menjual batubara ke PLN dengan harga terbatas sebesar $70 per ton, jauh di bawah harga pasar internasional.
Para pemimpin dunia usaha mengatakan kejadian ini merupakan pengingat bahwa infrastruktur listrik yang andal tetap penting tidak hanya untuk produksi industri tetapi juga untuk menjaga daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi.
“Bagi investor, kepastian dan infrastruktur yang andal sangat penting,” kata Erwin. “Keandalan sistem ketenagalistrikan nasional merupakan faktor strategis dalam menjaga daya saing perekonomian Indonesia dan kepercayaan investasi.”
Tag: Kata Kunci:


