Jakarta. Perekonomian Jakarta mencatat pertumbuhan yang solid pada tahun 2025, tumbuh 5,21% tahun-ke-tahun, melampaui tingkat pertumbuhan nasional Indonesia sebesar 5,11%, menurut data yang dirilis Kamis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Ibu kota negara ini terus memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, menyumbang 16,61% terhadap PDB Indonesia.
Gubernur Pramono Anung mengapresiasi kinerja tersebut berkat upaya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. “Pertumbuhan Jakarta di atas rata-rata nasional mencerminkan kekuatan kolaborasi. Pemerintah menjaga iklim usaha yang mendukung, dunia usaha menciptakan nilai, dan masyarakat terus berpartisipasi aktif dalam perekonomian kota,” ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis.
Hampir seluruh sektor di Durian Besar membukukan pertumbuhan positif pada tahun lalu. Sektor akomodasi dan makanan dan minuman memimpin kenaikan, tumbuh 9,33%, diikuti oleh transportasi dan pergudangan sebesar 8,69% dan jasa lainnya sebesar 8,46%. Hasilnya menandakan pemulihan industri yang bergantung pada mobilitas dan pariwisata, serta sektor yang digerakkan oleh konsumen.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak terbesar perekonomian Jakarta, memberikan kontribusi sebesar 62,8% terhadap total pengeluaran. Pembentukan modal tetap bruto menyumbang 33,79%, sementara konsumsi pemerintah bertambah 13,2%, yang menyoroti pentingnya menjaga daya beli dan menstimulasi investasi untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Kekuatan ekonomi kota ini terlihat jelas pada kuartal keempat tahun 2025, ketika pertumbuhan PDB meningkat menjadi 5,71% tahun-ke-tahun. Pada periode tersebut, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 8,40%, jasa lainnya tumbuh 8,32%, dan jasa dunia usaha meningkat 8,11%.
Pramono mengatakan kinerja akhir tahun yang kuat mencerminkan kebijakan yang ditargetkan untuk meningkatkan aktivitas perekonomian dan mendukung dunia usaha. “Kami sengaja memberikan stimulus di akhir tahun, bukan hanya untuk mengejar angka pertumbuhan tapi untuk menjaga perekonomian tetap berjalan dan melindungi lapangan kerja,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah provinsi Jakarta meluncurkan insentif fiskal, termasuk keringanan pajak sebagian untuk makanan, minuman, dan layanan hotel. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 722 Tahun 2025, insentif mencapai 50% pada Agustus–September dan 20% pada Oktober–Desember, memberikan manfaat bagi 45.248 wajib pajak dengan total keringanan sebesar Rp 495 miliar.
Pemerintah juga menghapuskan pajak iklan di pusat perbelanjaan dan hotel sebagai bagian dari program Jakarta Festive Wonders, yang bertujuan untuk mendigitalkan transaksi dan meningkatkan dekorasi musiman. Meskipun ada keringanan pajak, pendapatan iklan tumbuh 8,85% bulan ke bulan, sementara pendapatan makanan dan minuman serta hotel masing-masing naik 7,73% dan 9,18%.
Musim perayaan juga meningkatkan aktivitas konsumen, dengan lalu lintas pejalan kaki di mal meningkat 20% dan okupansi hotel meningkat dari 85% menjadi 90% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Jakarta Festive Wonders menarik 81 peserta dan menargetkan transaksi sebesar Rp 15,25 triliun, meningkat 15% dibandingkan periode normal.
Ke depan, Pramono menekankan komitmen pemerintah terhadap pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. “Kami akan terus memastikan kebijakan fiskal dan program pembangunan memperkuat daya beli, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung dunia usaha. Pertumbuhan ekonomi harus bermanfaat bagi seluruh warga Jakarta,” ujarnya.
Tag: Kata Kunci:


