Para ahli menyerukan perubahan pemikiran di kalangan para pemimpin dunia usaha dan regulator setelah peringkat keamanan siber global Indonesia merosot tajam, dan memperingatkan bahwa ekonomi digital negara ini sedang menghadapi risiko.
Skor Indonesia dalam National Cybersecurity Index (NCSI) yang diterbitkan oleh e-Governance Academy (eGA) yang berbasis di Estonia, mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2023, negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini mencetak 63,64 poin dan menduduki peringkat ke-48 secara global.
Namun pada tahun 2025, posisinya anjlok ke peringkat 84 dari 136 negara yang dinilai, dengan skor hanya 47,50 poin. Negara ini kini tertinggal dari negara-negara lain di kawasan seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina dalam indeks tersebut, yang mengukur kesiapan suatu negara dalam mencegah ancaman dunia maya dan mengelola insiden.
Menurut situs webnya, metodologi pemeringkatan NCSI bergantung pada data yang dikumpulkan atau diberikan kepada penilai, yang menunjukkan bahwa metodologi tersebut tidak memperhitungkan upaya keamanan siber yang tersembunyi.
Baca juga: Militerisasi Kerangka Keamanan Siber Indonesia
Firlie Ganinduto, Ketua Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSIi), mengatakan kesadaran keamanan di tingkat manajemen puncak masih rendah di Indonesia.
Setiap hari Senin
Dengan wawancara eksklusif dan liputan mendalam mengenai isu-isu bisnis paling mendesak di kawasan ini, “Prospek” adalah sumber yang tepat untuk tetap menjadi yang terdepan dalam lanskap bisnis Indonesia yang berkembang pesat.
untuk mendaftar buletin kami!
Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.
Lihat Buletin Lainnya
“Keamanan siber seringkali dipandang hanya sebagai masalah biaya dan teknis, padahal keputusan dan prioritas investasi berada di tangan para eksekutif,” ujarnya, seperti dikutip Bisnis, Kamis.


