Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir pada penutupan hari Kamis karena sentimen kehati-hatian tetap ada meskipun data perekonomian domestik solid dan masih adanya tekanan pada sektor teknologi global.
Indeks turun 42,83 poin atau 0,53% menjadi berakhir pada 8.103 setelah bergerak dalam kisaran 8.102 hingga 8.214. Volume perdagangan mencapai 35,98 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp 20,05 triliun ($1,18 miliar) dengan lebih dari 2,5 juta transaksi. Jumlah saham yang turun melebihi saham yang naik, dengan 349 saham melemah, 299 saham menguat, dan 172 saham tidak berubah.
Among top gainers, Citatah (CTTH) surged 34.48%, Nusantara Almazia (NZIA) climbed 34.31%, Kokoh Exa Nusantara (KOCI) advanced 33.77%, and PP Presisi (PPRE) rose 31.33%.
Di sisi yang merugi, Mora Telematika Indonesia (MORA) turun 14,93%, Multi Makmur Lemindo (PIPA) turun 14,92%, Sanurhasta Mitra (MINA) tergelincir 14,86%, dan MD Pictures (FILM) turun 14,85%.
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan pola rebound yang diikuti tekanan baru mencerminkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global dan domestik. Pasar regional Asia melemah secara luas karena penjualan saham-saham teknologi global terus berlanjut.
Investor menghindari saham-saham teknologi karena kekhawatiran atas peningkatan valuasi, membengkaknya belanja kecerdasan buatan, dan potensi gangguan terhadap model bisnis perangkat lunak tradisional, tulis Pilarmas dalam catatan penelitiannya pada hari Kamis.
Dari dalam negeri, indikator perekonomian relatif mendukung. Produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,39% tahun-ke-tahun pada kuartal keempat tahun 2025, melebihi ekspektasi pasar sebesar 5,01% dan meningkat dari 5,04% pada kuartal ketiga, menandai pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga tahun 2022.
Namun, pertumbuhan setahun penuh pada tahun 2025 hanya mencapai 5,11%, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2%, sehingga membuat investor selektif dalam mengalokasikan dana, menurut Pilarmas.
Pelaku pasar juga mencermati perjanjian tarif timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang dilaporkan telah selesai dan menunggu penandatanganan resmi. Meskipun berpotensi positif dalam jangka menengah, investor masih menilai dampaknya terhadap perdagangan dan arus investasi.
Selain itu, masalah reformasi pasar modal dan transparansi masih menjadi fokus setelah aksi jual sebelumnya terkait dengan pengawasan dari penyedia indeks internasional, sehingga mendorong kehati-hatian, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi kecil.
Secara global, saham-saham melemah di seluruh Asia karena penjualan besar-besaran di sektor teknologi, sementara harga bitcoin turun sebanyak 8%. Kospi Korea Selatan turun hampir 4%, dengan Samsung Electronics merosot 5,9% dan pembuat chip SK Hynix anjlok 6,7%.
Nikkei 225 Jepang kehilangan 0,9% menjadi 53.818,04, Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,1% menjadi 26.885,24, dan Shanghai Composite Tiongkok tergelincir 0,6% menjadi 4.075,92.
Semalam di Wall Street, S&P 500 turun 0,5% untuk penurunan kelima dalam enam sesi. Dow Jones Industrial Average naik 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,5% karena saham teknologi terus membebani kinerja pasar secara lebih luas.
Tag: Kata Kunci:


