Pemerintah berencana membentuk 150 batalyon baru setiap tahun mulai tahun 2026 untuk menjaga aset-aset penting negara, seperti kilang minyak, sebagai bagian dari ekspansi ambisius Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebuah langkah yang sekali lagi menimbulkan kekhawatiran akan semakin banyaknya campur tangan militer dalam urusan sipil.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan rencana tersebut setelah pertemuan dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan anggota DPR dari Komisi I DPR yang membidangi pertahanan pada hari Senin.
“Pertahanan negara sangat penting untuk menjaga kedaulatan Indonesia dan menjaga stabilitas guna mendukung program pembangunan ekonomi pemerintah. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat kekuatan, termasuk dengan menambah batalion baru di TNI Angkatan Darat,” kata Sjafrie.
Dia mengatakan TNI telah membentuk 150 batalyon pengembangan teritorial tahun ini dan akan terus membentuk jumlah yang sama setiap tahunnya hingga totalnya menyamai 514 kabupaten dan kota di Indonesia.
Batalyon tersebut ditugaskan tidak hanya untuk memperkuat pertahanan nasional tetapi juga mendukung program pertanian, perikanan dan peternakan untuk meningkatkan penghidupan masyarakat di seluruh negeri.
“Ini bukan upaya dominasi wilayah, tapi upaya menjaga keutuhan wilayah, menjaga kepentingan nasional, dan melindungi industri strategis yang terikat dengan kedaulatan negara, seperti kilang minyak Pertamina,” kata Sjafrie seraya menambahkan bahwa tentara akan mulai ditempatkan di kilang minyak dan gas milik negara itu pada bulan depan.

Setiap Senin, Rabu dan Jumat pagi.
Dikirim langsung ke kotak masuk Anda tiga kali seminggu, pengarahan yang dikurasi ini memberikan gambaran singkat tentang isu-isu terpenting hari ini, yang mencakup berbagai topik mulai dari politik hingga budaya dan masyarakat.
untuk mendaftar buletin kami!
Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.
Lihat Buletin Lainnya
Selain pengamanan aset negara, Sjafrie mengatakan Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan TNI untuk menjaga tiga wilayah yang disebut sebagai “pusat gravitasi” yang dianggap penting bagi stabilitas nasional dan kegiatan perekonomian. Provinsi-provinsi tersebut adalah Jakarta, provinsi paling barat di Aceh dan Papua, wilayah yang paling kaya sumber daya namun terbelakang dan rawan konflik.


